HUKUM PERAYAAN VALENTINE DAY

Posted on Updated on

Hukum merayakan Valentine day… Message itu yg aq terima dari seorang yang mengaku sebagi wanita Muslimah… yaaaa…. aq tertarik juga dengan judul message nya, aq coba buka dan membacanya… mmmm… agamais sich….tapi menurut aq tergantung kita yang memaknai valentine day itu gimana…. kalo aq pribadi it’s just sekedar hari kasih sayang aja tidak lebih… karena aq tidak mau ambil pusing dengan mengaitkannya ke agama… masalah agama dan kepercayan itu urusan kita masing-masing dan aq tidak mau saling menjelekkan (bukan berati aq menyalahkan wanita muslimah yg menulis artikel dibawah ini) kita juga harus saling menghargai antar sesama agama… menghargai hari besar agama lain bukan berarti ikut merayakannya, tapi hanya sekedar saling menghormati saja… he..he..he… kayaknya dah ceramah neee… mmm.. mmm.. bagusnya kalo anda tertarik dengan artikel ini silahkan baca.. dan bagaimana pendapat anda…??? apapun pendapat anda itulah anda.. he..he..he….

————————————————————–

Pada suatu pagi Desy mengejutkan
teman-temannya dengan setangkai bunga
merah yang ia letakkan di atas dadanya,
serta merta mereka menyambutnya dengan
senyuman sambil bertanya, “Dalam rangka
apa ini?” Desy menjawab, “Tidakkah
kalian tahu bahwa ini adalah hari
kasih-sayang di mana orang-orang sedang
merayakan dan saling memberikan ucapan
selamat. Ini adalah perayaan untuk
mengungkapkan rasa cinta, romantika dan
segala ketulusan, ini adalah Hari
Valentine…”. Tetapi Sari, salah
seorang temannya bertanya kepada Desy
dengan penuh keheranan, “Apakah arti
Valentine?” Desy menjawab, “Artinya
adalah cinta dalam bahasa latin ..!”
Sari tertawa mendengar jawaban
tersebut,
“Apakah kamu merayakan sesuatu yang
tidak kamu mengerti artinya? Tahukah
kamu bahwa Valentine adalah seorang
pendeta Nashrani yang hidup pada abad
ke
3 M?” Kata Sari bernada prihatin
terhadap keadaan sebagian putri
muslimah
yang mudah mengikuti apa saja yang
sampai kepada mereka tanpa berpikir
panjang.

SEJARAH HARI VALENTINE

Sari melanjutkan: “Ensiklopedia Katolik
menyebutkan tiga versi tentang
Valentine, tetapi versi terkenal adalah
kisah Pendeta St.Valentine yang hidup
di
akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi
Claudius II. Pada tanggal 14 Februari
270 M Claudius II menghukum mati
St.Valentine yang telah menentang
beberapa perintahnya.” “Claudius II
melihat St.Valentine mengajak manusia
kepada agama nashrani lalu dia
memerintahkan untuk menangkapnya. Dalam
versi kedua, Claudius II memandang para
bujangan lebih tabah dalam berperang
daripada mereka yang telah menikah yang
sejak semula menolak untuk pergi
berperang. Maka dia mengeluarkan
perintah yang melarang pernikahan.
Tetapi St.Valentine menentang perintah
ini dan terus mengadakan pernikahan di
gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai
akhirnya diketahui lalu dipenjarakan.
Dalam penjara dia berkenalan dengan
putri seorang penjaga penjara yang
terserang penyakit. Ia mengobatinya
hingga sembuh dan jatuh cinta
kepadanya.
Sebelum dihukum mati, dia mengirim
sebuah kartu yang bertuliskan “Dari
yang
tulus cintanya, Valentine.” Hal itu
terjadi setelah anak tersebut memeluk
agama nashrani bersama 46 kerabatnya.”

Lanjut Sari: “Versi ketiga menyebutkan
ketika agama nashrani tersebar di
Eropa,
di salah satu desa terdapat sebuah
tradisi Romawi yang menarik perhatian
para pendeta. Dalam tradisi itu para
pemuda desa selalu berkumpul setiap
pertengahan bulan Februari. Mereka
menulis nama-nama gadis desa dan
meletakkannya di dalam sebuah kotak,
lalu setiap pemuda mengambil salah satu
nama dari kotak tersebut, dan gadis
yang
namanya keluar akan menjadi kekasihnya
sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan
sebuah kartu yang bertuliskan “dengan
nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu
kartu ini.”

Sambung Sari: “Akibat sulitnya
menghilangkan tradisi Romawi ini, para
pendeta memutuskan mengganti kalimat
“dengan nama tuhan Ibu” dengan kalimat
“dengan nama Pendeta Valentine”
sehingga
dapat mengikat para pemuda tersebut
dengan agama Nashrani.”

“Versi lain mengatakan St.Valentine
ditanya tentang Atharid, tuhan
perdagangan, kefasihan, makar dan
pencurian, dan Jupiter, tuhan orang
Romawi yang terbesar. Maka dia menjawab
tuhan-tuhan tersebut buatan manusia dan
bahwasanya tuhan yang sesungguhnya
adalah Isa Al Masih,” papar Sari, “Maha
Tinggi Allah dari apa yang dikatakan
oleh orang-orang yang dzalim tersebut.”

“Bahkan saat ini beredar kartu-kartu
perayaan keagamaan ini dengan gambar
anak kecil dengan dua sayap terbang
mengitari gambar hati sambil
mengarahkan
anak panah ke arah hati yang sebenarnya
merupakan lambang tuhan cinta bagi
orang-orang Romawi!!!” Demikian Sari
mengakhiri nasihatnya.

# HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE #

Saat ini banyak ABG muslimah yang
terkena penyakit ikut-ikutan dan
mengekor pada budaya Barat atau
nashrani
akibat pengaruh TV dan media massa
lainnya. Termasuk pula dalam hal ini
perayaan Hari Valentine, yang pada
dasarnya adalah mengenang kembali
pendeta St.Valentine. Keinginan untuk
ikut-ikutan memang ada dalam diri
manusia, akan tetapi hal tersebut
menjadi tercela dalam Islam apabila
orang yang diikuti berbeda dengan kita
dari sisi keyakinan dan pemikirannya.

Apalagi bila mengikuti dalam perkara
akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan.
Padahal Rasul telah melarang untuk
mengikuti tata cara peribadatan selain
Islam: “Barang siapa meniru suatu kaum,
maka ia termasuk dari kaum tersebut.”
(HR. At-Tirmidzi). Bila dalam
merayakannya bermaksud untuk mengenang
kembali Valentine maka tidak
disangsikan
lagi bahwa ia telah kafir, adapun bila
ia tidak bermaksud demikian maka ia
telah melakukan suatu kemungkaran yang
besar. Ibnul Qayyim berkata, “Memberi
selamat atas acara ritual orang kafir
yang khusus bagi mereka, telah
disepakati bahwa perbuatan tersebut
haram. Semisal memberi selamat atas
hari
raya dan puasa mereka, dengan
mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan
semisalnya. Bagi yang mengucapkannya,
kalau pun tidak sampai pada kekafiran,
paling tidak itu merupakan perbuatan
haram. Berarti ia telah memberi selamat
atas perbuatan mereka yang menyembah
salib. Bahkan perbuatan tersebut lebih
besar dosanya di sisi Allah dan lebih
dimurkai dari pada memberi selamat atas
perbuatan minum khamar atau membunuh.
Banyak orang yang kurang mengerti agama
terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa
menyadari buruknya perbuatan tersebut.

Seperti orang yang memberi selamat
kepada orang lain atas perbuatan
maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia
telah menyiapkan diri untuk mendapatkan
kemarahan dan kemurkaan Allah.” Abu
Waqid radhiyallah ‘anhu meriwayatkan:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam
saat keluar menuju perang Khaibar,
beliau melewati sebuah pohon milik
orang-orang musyrik, yang disebut
dengan
Dzaatu Anwaath, biasanya mereka
menggantungkan senjata-senjata mereka
di
pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami
Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka
mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka
Rasulullah n bersabda, “Maha Suci
Allah,
ini seperti yang diucapkan kaum Nabi
Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan
sebagaimana mereka mempunyai
tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di
tangan-Nya, sungguh kalian akan
mengikuti kebiasaan orang-orang yang
ada
sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia
berkata, hasan shahih).

Adalah wajib bagi setiap orang yang
mengucapkan dua kalimat syahadat untuk
melaksanakan wala’ dan bara’ (loyalitas
kepada muslimin dan berlepas diri dari
golongan kafir) yang merupakan dasar
akidah yang dipegang oleh para salaf
shalih. Yaitu mencintai orang-orang
mu’min dan membenci orang-orang kafir,
memusuhi dan menyelisihi mereka. Serta
mengetahui bahwa sikap seperti ini di
dalamnya terdapat kemaslahatan yang
tidak terhingga, sebaliknya gaya hidup
yang menyerupai orang kafir justru
mengandung kerusakan yang lebih banyak.

Lain dari itu, mengekornya kaum
muslimin
terhadap gaya hidup mereka akan membuat
mereka senang, lagi pula, menyerupai
kaum kafir dapat melahirkan kecintaan
dan keterikatan hati. Allah Subhanahu
wa
Ta’ala telah berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah
kamu mengambil orang-orang yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu);
sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain. Barangsiapa di
antara kamu mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah:51)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum
yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat, saling berkasih sayang dengan
orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)

“Dan janganlah belas kasihan kepada
kedua pezina tersebut mencegah kamu
untuk (menjalankan) agama Allah, jika
kamu beriman kepada Allah, dan hari
akherat.” (An-Nur: 2)

Di antara dampak buruk menyerupai
mereka
adalah; ikut mempopulerkan ritual-
ritual
mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah.
Tidak ada suatu bid’ah pun yang
dihidupkan kecuali saat itu ada suatu
sunnah yang ditinggalkan. Dampak buruk
lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka
berarti memperbanyak jumlah mereka,
mendukung dan mengikuti agama mereka,
padahal seorang muslim dalam setiap
raka’at shalatnya membaca, “Tunjukilah
kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan
orang orang yang telah Engkau
anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan
(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan
(pula jalan) mereka yang sesat.”
(Al-Fatihah:6-7)

Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah
agar ditunjukkan kepadanya jalan
orang-orang yang mukmin dan dijauhkan
darinya jalan golongan mereka yang
sesat
dan dimurkai, namun ia sendiri malah
menempuh jalan sesat itu dengan
sukarela.

Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia
tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya
saja hari Valentine tersebut secara
khusus memberikan makna cinta dan suka
citanya kepada orang-orang yang
memperingatinya. Ini adalah suatu
kelalaian, padahal sekali lagi perayaan
ini adalah dari ritual agama lain!
Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan
cinta adalah sesuatu yang baik, namun
bila dikaitkan dengan pesta-pesta
kristiani dan tradisi-tradisi Barat,
akan mengakibatkan terobsesi oleh
budaya
dan gaya hidup mereka. Mengadakan pesta
pada hari tersebut bukanlah sesuatu
yang
sepele, tapi lebih mencerminkan
pengadopsian nilai-nilai Barat yang
tidak memandang batasan normatif dalam
pergaulan antara pria dan wanita
sehingga kita lihat struktur sosial
mereka menjadi porak-poranda.

Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti
yang jauh lebih baik dari itu semua,
sehingga kita tidak perlu meniru dan
menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa
dalam pandangan kita, seorang ibu
mempunyai kedudukan yang agung, kita
bisa mempersembahkan itu kepadanya dari
waktu ke waktu, demikian pula untuk
ayah, saudara, suami .dst, tapi hal itu
tidak kita lakukan khusus pada saat
yang
dirayakan oleh orang-orang kafir.

Semoga Allah senantiasa menjadikan
hidup
kita penuh dengan kecintaan dan kasih
sayang yang tulus, yang menjadi
jembatan
untuk masuk ke dalam Surga yang
hamparannya seluas Langit dan bumi yang
disediakan bagi orang-orang yang
bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita
termasuk dalam golongan orang-orang
yang
disebutkan: “Kecintaan-Ku adalah bagi
mereka yang saling mencintai karena
Aku,
yang saling mengunjungi karena Aku dan
yang saling berkorban karena Aku.”
(Al-Hadits).

# FATWA ULAMA:#

Pertanyaan: Pada akhir-akhir ini ini
telah tersebar dan membudaya perayaan
hari Valentine -terutama di kalangan
pelajar putri, padahal ia merupakan
salah satu dari sekian macam hari raya
kaum Nasrani. Biasanya pakaian yang
dikenakan berwarna merah lengkap dengan
sepatu, dan mereka saling tukar mawar
merah. Bagaimana hukum merayakan hari
Valentine ini, dan apa pula saran dan
anjuran anda kepada kaum muslimin.
Semoga Allah selalu memelihara dan
melindungi anda.

Jawab: Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Merayakan hari valentine itu tidak
boleh, karena: Pertama: ia merupakan
hari raya bid’ah yang tidak ada dasar
hukumnya di dalam syari’at Islam.
Kedua:
ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan
perkara perkara rendahan seperti ini
yang sangat bertentangan dengan
petunjuk
para salaf shalih (pendahulu kita) –
semoga Allah meridhai mereka. Maka
tidak
halal melakukan ritual hari raya, baik
dalam bentuk makan-makan, minum-minum,
berpakaian, saling tukar hadiah ataupun
lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa
bangga dengan agamanya, tidak menjadi
orang yang tidak mempunyai pegangan dan
ikut-ikutan.

Semoga Allah melindungi kaum muslimin
dari segala fitnah (ujian hidup), yang
tampak ataupun yang tersembunyi dan
semoga meliputi kita semua dengan
bimbingan-Nya.

* Dipersilahkan dan Dianjurkan untuk
memperbanyak dan menyebarkan Informasi
Buletin ini kepada seluruh Umat Islam.

sumber : dikirim oleh wanita muslimah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s